Menyaksikan laki-laki kecil itu sungguh meruntuhkan hati saya. Iba, haru, cinta, harapan, bahagia, semua menjadi satu. Dua tahun lalu, saat usianya menginjak tiga tahun, saya teramat khawatir akan perkembangan jiwanya. Tapi hari ini, beberapa hari setelah ulang tahunnya yang kelima, saya tahu bahwa kekhawatiran saya tidaklah terlalu beralasan. Ia masih akan terus berkembang. Ia masih akan terus belajar dari lingkungannya. Ia masih akan terus menerima berbagai nilai kebaikan (dan berarti juga keburukan) yang diajarkan kepadanya. Dan itu berarti harapan besar bagi kami, bapak, mama, kakek nenek dan saya tentu saja, orang-orang dewasa di sekelilinngnya. Bahwa kami masih akan dapat mendidiknya dengan nilai-nilai kebaikan. Laki-laki kecil itu, Fitra, keponakan saya. Cowok ganteng yang makin tinggi dan makin pinter, meski tidak juga lebih gemuk itu menunjukkan sikap empatik yang teramat manis beberapa waktu terakhir. Padahal, beberapa waktu lalu dia adalah cowok egois yang suka menang sendiri, gampang mengamuk dan selalu ingin kemauannya dipenuhi.
MEREKA AKAN TERUS TUMBUH DAN BERKEMBANG
Liesnavita, Rabu, 09 Februari 2011Kemarin, saat saya berkesempatan mengantarnya ke sekolah. Dia bersikap cukup manis kepada teman-temannya. Meminjamkan mainan yang dipegangnya, berbagi giliran ayunan, luncuran maupun bola. Padahal dulu, teman-temannya takut padanya karena dia dan sahabatnya suka merebut mainan mereka. Tapi hari ini, semua itu sudah berubah, tidak berbekas.
Yang paling mengesankan, ketika dia dan teman-temannya bermain tangkap bola bersama ibu guru. Setiap anak harus menangkap bola yang dilempar ibu guru. Barang siapa yang tidak dapat menangkapnya, maka ia harus maju ke depan untuk menjalani hukuman. Banyak yang dapat dengan mulus menangkap bola, namun banyak juga yang terlepas, takut atau menghindar. Mereka yang gagal sebagian dengan PeDe maju ke depan untuk menyanyi, baca doa ataupun mengaji, namun banyk juga yang malah menangis atau mogok. Ketika giliran fitra, dia dengan percaya diri menangkap bola itu dan berhasil. Sayang sahabatnya yang mendapat giliran setelah dia, gagal. Anak itu maju ke depan, namun dia menangis ketika harus tampil. Tanpa diminta, laki-laki kecil saya ikut maju ke depan, menghiburnya dan menggandeng tangannya: menemani sahabatnya menjalani 'hukuman'. Mereka berdua pun kemudian membaca surat fatihah bersama-sama. Saya hanya tersenyum haru.
Pun dia juga belajar banyak sikap empatik lainnya. Beberapa waktu lalu saya mengajarinya untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Berkali-kali dia masih sering lupa, namun kemarin, tanpa diingatkan lagi, dia langsung menuju tempat sampah ketika mengupas jeruk. Di rumah eyang, ketika tidak menemukan tempat sampah, dia bertanya kemana dia mesti membuang botol susu instant yang habis diminumnya.
Semua itu mengingatkan saya pada waktu-waktu yang lalu. Ternyata dia bukan hanya kali ini saja bersikap empatik. Lebaran kemarin, dia jatuh sakit. Dalam kondisi suhu badan nyaris 40 derajat celcius, dia tidak rewel. Ketika dibawa ke dokter, Fitra dengan lancar mengatakan sendiri indikasi sakit yang dideritanya. Di rumah, dia minum obat tanpa mengeluh. Padahal obatnya berupa puyer yang banyak dan sangat pahit. Saat dikompres untuk menurunkan suhu badannya, dia ikut mengatur letak kain basah yang dipakai mengompres dahinya. Dengan lucu dia meminta kain-kain lagi untuk mengompres bagian tubuh yang lain. "Dingin, Ma. Enak!" katanya.
Esok paginya, dia masih sakit. Panas badannya membuat dia menjadi tampak sangat lemah, lesu dan kuyu. Ketika mamanya bermaksud menggendongnya, dia berkomentar, "Nanti Mama capek." Dia sadar bahwa dia telah besar. Dan akhirnya Fitra memilih berbaring di sofa, berbantalkan pangkuan Mama.
Sakit itu sama sekali tidak membuatnya menjadi kolokan. Meskipun mual dan selalu muntah kembali tiap kali makan, namun karena pengin sembuh, dia memaksakan diri untuk makan. Saat dibacakan buku tentang kuman dan disana disebut bahwa makan yang banyak dan minum obat akan membantu pasukan darah putihnya melawan kuman, dia dengan semangat makan dan minum obat. Pernah suatu kali dia muntah di atas karpet sehabis minum obat. Mau tidak mau, kami harus langsung mencuci karpet itu. Masih dalam kondisi lemas sehabis muntah, dia ikut ke air, ingin membantu mencuci karpet. Semua episode sakit itu ditutup dengan sebuah kalimat manis, saat panas tinggi menyebabkan dia mimisan dengan darah yang terus menyembur dari rongga hidungnya, "Mama kasihan ngga sama aku? Aku kasihan sama Mama!" katanya lembut sambil memegangi tangan mamanya yang sibuk menyeka darah yang mengalir dari hidungnya.
***
Dan kini aku percaya, bahwa Fitra-ku masih akan terus berkembang menjadi lebih baik. Lebih empatik, lebih berakhlak. Hanya satu syaratnya: kami, orang-orang dewasa di sekitarnya tak henti untuk memupuk potensi kebaikan yang dimilikinya. Tak patah semangat dan harapan terhadap keburukan yang nampak. Karena sesungguhnya dia masih akan berkembang dan berubah. Dan itu juga berlaku bagi anak-anak dunia lainnya
***
by : Azimah Rahayu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Comments :
Posting Komentar