Antibiotik Bisa Berbalik Dari Menyembuhkan Jadi Membahayakan

Vera Farah Bararah - detikHealth

Antibiotik mampu membunuh bakteri penyakit. Tapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa membuat antibiotik dari obat yang menyembuhkan menjadi obat yang membayakan.

Antibiotik bisa jadi adalah obat yang paling sering diresepkan oleh para dokter, tapi sayangnya banyak yang tidak tepat pemberiannya. Waspadai ancaman penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Prof Iwan Dwiprahasto selaku guru besar farmakologi UGM menuturkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun individu. Bentuk penyalahgunaannya cukup beragam mulai dari tidak tepat memilih jenis antibiotik hingga cara dan lamanya pemberian.
Batuk dan pilek adalah penyakit yang paling umum dialami anak kecil. Jika diberi antibiotik justru bisa memperparah kondisinya dan anak jadi lebih sering batuk pilek.
"Balita yang dikasih antibiotik justru akan makin sering batuk pilek”. "Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat serta waktu pemberian yang terlalu singkat atau terlalu lama akan menimbulkan masalah resistensi yang cukup serius," ujar Prof Iwan dalam acara workshop jurnalis kesehatan di gedung FISIP UI, Depok, Sabtu (26/3/2O11).

Prof Iwan menuturkan pada umumnya anak-anak mengalami batuk pilek sebanyak 4-5 kali dalam setahun. Tapi jika anak diberi antibiotik maka bisa saja dalam setahun anak menjadi 10 kali batuk pilek. Jika diberi antibiotik secara terus menerus suatu saat bisa saja anak sakit setiap minggunya.

"Setiap orang diresepkan antibiotik, padahal batuk pilek tidak memerlukan antibiotik," ujar Prof Iwan yang menangani bagian Farmakologi dan Terapi/Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit FK-UGM/ RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.
"Obat antibiotik juga tidak boleh dicampur di dalam obat puyer dan harus terpisah," ujarnya.

Hal-hal lain yang menjadi masalah dalam obat puyer adalah kebersihan (apakah menggunakan masker dan sarung tangan saat meracik), dosis yang umumnya tidak sama tiap bungkus, homogenitas, higroskopis, penyerapan obat yang berbeda di dalam lambung, keterampilan, interaksi antar obat.
Prof Iwan menuturkan interaksi antar obat bisa berupa saling menguatkan, kadar obat lain ditekan, pengobatan menjadi tidak efektif, pengobatan menjadi beracun hingga kegagalan pengobatan.

"Dalam hal ini bukan karena obat itu yang membunuh pasien, tapi caranya yang salah," ungkap Prof Iwan.
Untuk itu bagi para orangtua sebaiknya lebih cermat dalam memberikan obat pada sang buah hati, dan jika si kecil mengalami batuk pilek sebaiknya tidak perlu diberikan antibiotik.
Senada dengan Prof Iwan, perwakilan World Health Organization Dr Sharad Adhikary juga menuturkan antibiotik memang obat yang telah menyelamatkan banyak jiwa, tapi tidak bisa menyembuhkan semua macam penyakit. Antibiotik hanya dapat menyembuhkan penyakit akibat infeksi bakteri.

Sebuah studi mendapatkan partisipan yang diberikan antibiotik dan partisipan yang diberi plasebo (obat kosong) menunjukkan waktu kesembuhan yang sama. Beberapa studi lain juga menunjukkan penggunaan antibiotik pada penyakit atau kondisi yang sebenarnya tidak perlu.

Antibiotik kerap dibeli tanpa resep dan tanpa penjelasan, masyarakat biasanya membeli antibiotik dengan menggunakan resep sebelumnya. Padahal antibiotik harus melalui resep dan berdasarkan indikasi yang muncul.
"Jika digunakan berlebihan, bakteri bisa bermutasi sehingga jadi kebal. Jika semua kebal maka bisa menimbulkan superbug dan bisa-bisa nantinya kita kembali ke era sebelum ada antibiotik," ujar Dr Sharad.
Dr. Sharad menuturkam masalah kekebalan terhadap antibiotik bukanlah masalah baru, tapi lama kelamaan semakin mengkhawatirkan dan berbahaya. WHO pada tahun 1998 telah mulai meminta negara-negara anggotanya untuk mengatasi masalah hal ini.
Infeksi virus seperti demam, flu, batuk pilek, radang tenggorokan dan beberapa infeksi telinga merupakan infeksi yang tidak boleh diobati dengan antibiotik. Hal ini karena antibiotik membunuh bakteri dan tidak membunuh virus.
Antibiotik membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang peka. Tapi kadang salah satu bakteri dapat bertahan hidup karena mampu menetralisir atau menghindar dari efek antibiotik. Bakteri yang semula hanya peka bisa menjadi kebal melalui perubahan genetik di dalam selnya sehingga menjadi resisten terhadap antibiotik.
Untuk menghindari penyalahgunaan antibiotik, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu:
1. Gunakan antibiotik hanya dengan resep dokter, dengan dosis dan jangka waktu sesuai resep.
2. Tanyakan pada dokter obat mana yang mengandung antibiotik dan apa manfaatnya.
3. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa menurunkan efektifitas.
4. Demam, batuk, pilek dan diare umumnya tak perlu antibiotik. Hanya perlu makan makanan bergizi, minum dan istirahat. Jika dalam waktu 3 hari tidak sembuh, segera pergi ke dokter.
5. Jangan gunakan atau beli antibiotik dari dokter atau menggunakan resep yang lama.
6. Penggunaan antibiotik yang sembarangan bisa merugikan diri sendiri.
7. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai antibiotik.
8. Memperbaiki perilaku tentang penggunaan antibiotik.
9. Mencegah dan menghindari penggunaan antibiotik yang berlebihan atau justru kurang.

"Masyarakat sebaiknya tidak mengobati diri sendiri, dan jangan mengonsumsi obat yang tidak diperlukan serta minumlah obat sesuai dosisnya," ujar Dr Sharad.

AKU SANGAT MENCINTAIMU MAMA

Siang itu dalam kereta tujuan Freiburg*.

Di dalam gerbong kereta, anak laki-laki 3 tahun itu tampak begitu resah, tak sabar, ingin segera sampai di tujuan. Sesekali melirik ibunya di samping, yang tampaknya sadar kegelisahan si kecil. Berkali-kali pertanyaan kapan tiba di tujuan selalu ditanyakan.

"Mama, mama bawa biskuit gak?" Sang Mama mengangguk singkat.
"Biskuit yang mana Mama?" desaknya lagi
"Yang ada coklat dan kacangnya".
"Nanti yah...sekalian kalau sudah sampai. Sebentar lagi kok" tambah sang Mama. Si kecil mengangguk.

"Mama?" kata anak itu kembali.
"Yah?" kali ini ada sedikit nada tidak sabar dalam suaranya.
"Mam, ich habe dich sehr lieb! (aku sangat mencintaimu Mama!)" senyumnya mengembang.
Ibunya tersenyum mengangguk.

Penumpang lainnya tersenyum mendengarnya. Saya pun turut merasakan kebahagiaan yang saya yakin sekali pasti dirasakan sang Ibu.

Pemandangan yang mungkin masih jarang ditemui di tanah air. Bukan tidak ada, tapi masih jarang sekali. Ekspresi rasa sayang, rasa cinta sang anak yang begitu lugas, lepas pada ibunya. Bagaimana seorang anak bisa demikian bebas mengungkapkannya? Semuanya tergantung dari kita, orangtuanya.

Menjadi bukan hal yang lumrah jika kita orang tua juga tidak biasa mengungkapkan rasa sayang kita kepada mereka. Bagaimana mungkin bisa melakukannya, jika bagi kita sendiri ungkapan rasa cinta bukanlah suatu hal yang harus diverbalisasikan. Ada tembok kesungkanan, atau merasa aneh, ketika rasa cinta harus dilontarkan. Tabu.

Tak dipungkiri bahwa tanpa diungkapkan pun, seorang Ibu, seorang Ayah pastilah mencintai anak-anaknya. Sudah menjadi kodrat/fitrah kenyataan tersebut ada. Dari semua hal yang dilakukan orang tua kepada anaknya, mulai dari merawat, membesarkan, bermain bersama, mendidik, juga menasehati, semuanya tercurah luapan rasa kasih sayang.

Seberapa pentingkah pengungkapan tersebut? Saya pribadi melihat, kebisaan melakukan pengungkapan rasa cinta, rasa sayang hanya sepersekian persen dari kemampuan pengungkapan rasa lainnya.
Apabila ananda kita mampu belajar memformulasikan kehendak, semua perasaan dalam bentuk kata-kata, mereka akan lebih cerdas secara emosional dan sosial, insya Allah, akan lebih ringan menjalani kehidupan kelak. Kemampuan berkomunikasi secara verbal menunjukkan tingkat kecerdasan emosional seseorang.

Lawrence E: Shapiro, dalam bukunya yang terkenal, How to Raise a Child with a High EQ, mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional adalah ketika kita mampu menguasai emosi dan segala perasaaan. Ketika seorang anak mampu mengenali kemudian menyampaikan emosinya, tahapan menguasai emosi akan dia raih.

Sebagai orangtua yang bisa dilakukan adalah membantu anak kita untuk memverbalisasikan perasaan sebagai salah satu cara bagi sang anak kelak dalam menghadapi konflik dan memenuhi kebutuhan mereka.

Melatih mereka mengungkapkan perasaan berikut di dalamnya perasaan sayang, berarti membantu anak kita berkomunikasi secara verbal dengan lebih baik. Kita latih mereka untuk mengungkapkan tidak saja rasa sayang mereka, tapi juga rasa yang ada ketika mereka sedih, marah, kecewa, frustasi. Kita membuka lembaran diskusi yang buat mereka tidak sulit untuk terlibat di dalamnya.

Tidak mungkin mereka dapat melakukannya kalau contoh nyata dari kita pun tidak mereka dapatkan. Ajak mereka bicara dari hati ke hati. Percayalah, telinga si kecil selalu terbuka lebar dan menyerap banyak tanpa kita bisa duga.

Bayangkan, senangkah jika pasangan kita atau bahkan orangtua kita mengatakan, "Aku mencintaimu". Walaupun sungguh! kita sudah mengetahuinya sejak dahulu. Satu kalimat yang saya percaya membawa banyak, banyak sekali perubahan yang tak dinyana-nyana di dalamnya.

Nah, kenapa tidak kita lakukan itu pada anak kita. Kalaulah sering dituliskan" Sudah engkau ungkapkan rasa sayang hari ini pada pasanganmu?" Kenapa tidak ditambah, Sudahkah kita menyatakan rasa cinta kita hari ini pada sang buah hati?


By : Shafiyya